PENDAHULUAN
BISMILLAH AR-RAHMAN AR-RAHIM
![]() |
| Cover Buku |
("Katakanlah hai Muhammad,
aku tidak meminta upah apa pun dari kalian atas seruanku selain kasih sayang di
dalam kekeluargaan") [Asy-Syura: 23]
Asyhadu an laa ilaaha illallaah,
saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dengan kesaksian itu semoga Allah
s.w.t. berkenan memperdalam kecintaan saya dan lebih mendekatkan saya kepada-Nya…Wa
asyhadu anna sayyidanna wa maulaanaa Muhammadan 'abduhu wa Rasulu; dan saya pun
bersaksi bahwa junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w. adalah hamba Allah dan
Rasul-Nya, manusia termulia di seluruh jagat raya…
Ya Allah, limpahkanlah shalawat
sebanyak-banyaknya dan salam sejahtera kepada Nabi dan Rasul yang mulia itu
bersama seluruh ahlulbait dan para sahabatnya yang telah melaksanakan amanat Risalah
dengan sempurna.
Ada dua sebab yang mendorong saya
menulis buku kecil ini yang saya beri judul "KEUTAMAAN AHLULBAIT
RASULULLAH S.A.W."…
Pertama: Lebih kurang lima tahun
yang lalu, yaitu pada tahun 1400 H/1980 M, saya pernah menulis sebuah risalah kecil
berjudul "Asyura" (10 Muharram), berisi uraian tentang ahlulbait
Rasulullah s.a.w., khususnya riwayat singkat Imam al-Husein bin 'Ali bin Abi
Thalib r.a. Di saat menulis risalah itu tidak terlintas dalam fikiran saya, bahwa
ia akan memperoleh sambutan hangat dari kaum Muslimin. Bahkan banyak di antara
mereka yang meminta kepada saya supaya menulis sebuah buku yang lebih lengkap
dan jelas tentang kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w. di dalam agama Islam.
Sesungguhnya saya merasa berat
sekali memenuhi permintaan yang baik itu karena saya bukan seorang penulis.
Dalam waktu yang lama hal itu menjadi beban fikiran saya. Kemudian saya berniat
hendak mencobanya sambil bertawakkal kepada Allah s.w.t., mohon hidayat dan
taufik-Nya, agar niat saya itu dapat terlaksana. Dengan menekuni pembacaan
kitab-kitab tentang ahlulbait Rasulullah s.a.w. dan dengan bantuan beberapa
orang sahabat, akhirnya saya memberanikan diri menulis buku ini. Betapa besar
saya rasa syukur saya kepada Allah s.w.t. yang telah berkenan mengabulkan
permohonan saya.
Dalam keadaan usia saya yang
telah lanjut, saya hanya mengharapkan semoga usaha saya ini diridhai Allah dan
Rasul-Nya serta dinilai sebagai amal kebajikan yang akan membuka pintu
maghfirah, agar pada saat saya akan meninggalkan dunia yang fana ini dikaruniai
husnal-khatimah. Tidak lain hanya itulah yang saya idam-idamkan.
Kecuali itu masih ada satu soal
yang ingin saya kemukakan untuk mencegah kemungkinan terjadinya salah faham
yang sama sekali tidak saya inginkan. Dalam buku ini terdapat pembahasan
tentang "Hadits Tsaqalain". Sehubungan dengan itu saya hendak
menekankan dua hal: Pertama, saya sama sekali tidak mengingkari adanya Hadits
yang diriwayatkan berasal dari ucapan Rasulullah s.a.w., bahwa beliau
meninggalkan dua pegangan yang menjamin keselamatan ummatnya yaitu;
(Kitabullah dan
Sunnahku)
Hadits tersebut adalah Hadits yang
lain lagi, yakni bukan Hadits Tsaqalain, dan pada umumnya telah banyak
diketahui oleh kaum muslimin. Lain halnya dengan Hadits Tsaqalain, sekalipun kebenarannya
telah diterima bulat oleh berbagai mazhab Islam, namun belum banyak dikenal
oleh kaum Muslimin. Kedua, dengan membahas Hadits Tsaqalain, buku ini sama
sekali tidak bermaksud hendak membuka pendebatan atau polemik, saya hanya
bermaksud menyampaikan wasiat Rasulullah s.a.w. kepada kaum Muslimin awam yang
belum pernah mendengar atau mengenalnya. Dengan mengenal dan mengetahui
siapa-siapa dan bagaimana sesungguhnya kedudukan ahlulbait Rasulullah s.a.w.
itu, orang akan merasa mantap dalam mengucapkan shalawat bagi "sayyidina
Muhammad dan bagi aal sayyidina Muhammad" dalam setiap shalat fardhu yang
lima kali sehari semalam.
Tidak diragukan lagi bahwa aal
Muhammad Rasulullah s.a.w. yang dalam zaman kita sekarang ini terkenal dengan
sebutan kaum 'Alawiyyin, merupakan orang-orang yang memiliki fadhilah dzatiyyah
(keutamaan dzat) yang dikurniakan Allah s.w.t. kepada mereka melalui hubungan
darah dengan insan pilihan-Nya, Rasulullah s.a.w. Naif sekali anggapan yang
menyamakan mereka dengan orang-orang dari keturunan lain, karena anggapan
demikian itu sama artinya dengan menyamakan pribadi Rasulullah s.a.w. dengan pribadi
lain. Anggapan seperti itu tidak sejalan dengan syari'at Islam, karena Allah
s.w.t. menegaskan dalam firmannya:
"Dan dia (Muhammad s.a.w.)
tidak mengucapkan sesuatu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya bukan lain
adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya" [An-Najm: 3-4]
Fadhilah dzatiyyah yang mereka
miliki bukan fadhilah yang dibuat-buat dan bukan berdasarkan fadhilah
pengamalan baik mereka dan bukan pula atas keinginan mereka, melainkan telah
menjadi qudrat dan kehendak Ilahi sejak azal. Karena itu tidak ada alasan apa pun
untuk merasa iri hati terhadap keutamaan mereka. Soal inilah justru yang
dipertanyakan Allah s.w.t. dalam firman-Nya:
"Ataukah mereka (orang-orang
yang dengki) merasa iri hati terhadap orang-orang yang telah diberi karunia
oleh Allah?" [An-Nisa: 54]
Fadhilah dzatiyyah yang dikaruniakan
Allah s.w.t. kepada para keturunan Rasulullah s.a.w. sama sekali tidak lepas
dari rasa tanggung jawab mereka yang lebih berat dan lebih besar daripada yang
mesti dipikul orang lain. Mereka mesti selalu menyadari kedudukannya di
tengah-tengah ummat Islam. Mereka wajib menjaga diri dari ucapan, perbuatan dan
sikap yang dapat mencemarkan kemuliaan aal Muhammad Rasul Allah s.a.w., dan
wajib pula menyadari tanggung jawabnya yang lebih besar atas citra Islam dan
ummatnya. Dengan demikian maka kewajiban menghormati mereka yang dibebankan
oleh syari'at kepada kaum Muslimin dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya.
Tidak akan ada kesan bahwa para keturunan Rasulullah s.a.w. menonjol-nonjol
diri menuntut penghormatan dari orang lain, dan kaum Muslimin pasti menempatkan
mereka pada kedudukan sebagaimana yang telah menjadi ketentuan syari'at.
Dalam buku ini kami paparkan dengan
jelas dan gambling kewajiban kaum Muslimin menghormati keturunan Rasulullah
s.a.w. sebagaimana yang difatwakan oleh para ulama puncak dan para Iman
mujtahidin berdasarkan Kitabullah al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya. Semoga Allah
s.w.t. berkenan melimpahkan hidayat-Nya kepada kita semua agar tetap mencintai
ahlulbait dan aal Muhammad s.a.w. demi kecintaan kita kepada Allah s.w.t. dan
kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w. Maha Besar Allah yang telah
berfirman:
"Sungguhlah bahwa engkau
tidak akan dapat memberi hidayat kepada orang yang kau kasihi, tetapi Allah
sajalah yang melimpahkan hidayat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah
lebih mengetahui orang-orang yang hidup menurut hidayat-Nya" [Al-Qashash:
56]
Mudah-mudahan dengan inayah
Rabil-'alamin penjelasan saya mengenai ahlulbait Rasulullah s.a.w. akan
bermanfaat bagi kaum Muslimin. Semoga Allah s.w.t. dan Rasul-Nya berkenan
menerima serta meridhai sekelumit kebajikan yang saya hibahkan kepada seluruh
ahlulbait Rasul Allah s.a.w.
Wa maa taufiqi illa billah,
'alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.
Jakarta, 1986
K.H. 'Abdullah bin Nuh.
Buku bisa di-download di sini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar