![]() |
| KH. Abdullah bin Nuh |
Lahir di Cianjur, tepatnya di Kampung Bojong Meron pada tahun 1324 H. atau lengkapnya tanggal 30 Juni 1905 M. Ayahnya Rd Mohamad Nuh bin Idris lahir tahun 1879. Dikenal sebagai pendiri Madrasah Al I’anah Cianjur dan murid utama KH Muhtar seorang guru besar di Masjidil Harom Makkah. Rd Mohamad Nuh bin Idris Wafat tahun 1966. Sedangkan Ibunya bernama Raden Aisyah binti Rd. Muhammad Sumintapura adalah seorang Wedana di Tasikmalaya di Zaman kolonial Belanda.
Melihat kepada nasabnya, KH Abdullah bin Nuh itu putra
dari KH Rd Nuh bin Rd H Idris bin Rd H Arifin bin Rd H Sholeh bin Rd H
Musyidin Nata Praja bin Rd Aria Wiratanudatar V (dalem Muhyiddin) bin Rd
Aria Wiratanudatar IV(dalem Sabiruddin) bin Rd Aria Wiratanudatar III
(Dalam Astramanggala) bin Rd Aria Wiratanudatar II (dalam Wiramanggala)
bin Rd Aria Wiratanudatar I (Dalem Cikundul).
Di usia balitanya,
KH Abdullah bin Nuh dibawa keluarganya bermukim di Makkah. Disana beliau
tinggal selama 2 tahun bersama Nyi Raden Kalifah Respati, nenek ayahnya
yang kaya raya di Cianjur dan ingin meninggal di Makkah. Mungkin,
karena pengalaman di Makkah itulah hingga dihati beliau tumbuh
berkembang bakatnya untuk menjadi penyair dan sastrawan Arab. Pasalnya
seringkali beliau bercerita pada keluarganya tentang pedagang-pedagang
makanan pagi di Makkah yang menjajakan barang dagangan sambil berseru
“El Batato Ya Nas” . rupanya pengalaman itu cukup mendalam di relung
hati beliau, sehingga pada saat-saat tertentu beliau suka bernyanyi
nyanyi kecil “El Batato Ya Nas…El Batato Ya Nas.” Kalau di Indonesia,
tak ubahnya seperti pedagang-pedagang yang ada di Jogya yang menjajakan
dagangannya sambil berseru “Gudege nggih den…. Gudege nggih den”.
Pulang
di Makkah, Pendidikan formalnya diawali dari Madrasah Al I’anah
Almubarokah yang didirikan Ayahnya pada tahun 1912. Salah satu Mandrasah
yang boleh dibilang sebagai kawah candra dimuka bagi kelahiran para
pahlawan dan sastrawan muslim yang kebesaran namanya tidak hengkang
digerus zaman.
Sejak kecil, kecerdasan dan ketajaman hati, KH
Abdullah bin Nuh memang sudah terang keunggulan ilmunya. Di usianya yang
baru 8 tahun sudah mengusai bahasa Arab. Juara Al Fiah, sanggup
menghafal Al Fiah Ibnu Malik dari awal sampai akhir bahkan, dibalik dari
akhir keawal. Selain belajar di Al I’anah, beliau pun tidak
henti-hentinya menggali dan menimba ilmu dari ayahnya. hal itu pernah
ungkapkannya kepada salah seorang muridnya. Kata Beliau : “Mama Mah
Tiasa Maca Ihya Teh Khusus Ti Bapak Mama”.
Pada tahun 1918,
Madrasah Al I’anah melahirkan murid-murid pilihannya yang terdiri dari
Rd. Abullah (KH Abdullah bin Nuh) Rd. M Zen, Rd. Taefur Yusuf, Rd.
Asy’ari, Rd. Akung dan Rd. M Soleh Qurowi. Ke 6 orang murid yang
bergelar dakhiliyyah itu diberangkatkan ke Pekalongan, mereka bermukim
di internat (Pondok pesantren) Syamailul Huda. yang dipimpinan oleh
seorang Guru besar Sayyid Muhammad bin Hasyim bin Tohir Al Alawi Al
Hadromi, keturunan Hadrol Maut yang tinggal di Jl. Dahrian (sekarang Jl.
Semarang) Pekalongan. Di Syamailul Huda, Rd Abdullah bin Nuh kecil
mondok bersama 30 orang sahabat seniornya yang sudah terlebih dahulu
bermukim dan belajar disana. Mereka datang dari berbagai daerah. Ambon,
Menado, Surabaya, Malaysia bahkan ada juga yang dari Singapore.
Tahun
1922, Sayyid Muhammad bin Hasyim Hijrah ke Surabaya. KH Abdullah bin
Nuh ikut diboyong, karena Beliau merupakan salah seorang murid terbaik
yang menjadi kesayangannya. Di Surabaya Sayyid Muhammad bin Hasyim
mendirikan “Hadrolmaut School”. Selain digembleng cara mengajar,
berpidato, memimpin dan lain-lain yang diperlukan, di “Hadromaut School”
itupun KH Abdullah bin Nuh diperbantukan untuk mengajar.
Memasuki
tahun 1925, KH Abdullah bin Nuh bersama 15 orang murid pilihan lainnya
dibawa oleh Sayyid Muhammad bin Hasyim ke Mesir dalam upaya memperdalam
ilmu agama diperguruan tinggi Mesir yang waktu itu hanya ada dua, yakni
Jamiatul Azhar (syari’ah) dan Madrasah Darul Ulum Al Ulya (Al-Adaab).
Peristiwa itu bertepatan dengan didudukinya Kota Mekkah Almukaromah oleh
Wahabiyyin yang berbuntut dengan keluarnya Malik Husen meninggalkan
Makkah.
Selama di Mesir, mula-mula tinggal di Syari’ul Hilmiyyah,
lalu berpindah ke Syari’ul Bi’tsah Bi Midanil Abbasyiah dan
diperbantukan menjadi khodam-khodam/tukang masaknya orang orang Yaman,
sedangkan di Al Azhar, KH Abdullah bin Nuh tidak belajar bahasa Arab
lagi, karena memang sebelum berangkat kesana Beliau sudah benar-benar
pandai dan ahli, bahkan sudah mengusai pula berbagai bahasa lainnya,
disana Beliau hanya mempelajari dan memperdalam ilmu fiqih.
Siang
malam KH. Abdullah bin Nuh nyaris tidak ada hentinya untuk belajar,
usai belajar dari Jami’atul Azhar, pulang kerumah hanya berganti
pakaian, kemudian keluar lagi dengan memakai pantolan, berdasi dan
memakai torbus untuk mengikuti pengajian-pengajian diluar Al Azhar.
Mahasiswa Al Azhar mempunyai ciri khas yakni berjubah dan mengenakan
sorban yang dililitkan kepala (udeng).
KH Abdullah bin Nuh
belajar di Mesir hanya 2 tahun, itupun dikarenakan putra gurunya yang
beliau temani tidak merasa betah, sedangkan Guru besar Sayyid Muhammad
bin Hasyim pulang ke Hardomaut, akhirnya KH Abdullah bin Nuh memutuskan
untuk pulang ke Indonesia
Sekembalinya dari Mesir Tahun 1927. KH
Abdullah bin Nuh memulai karirnya sebagai Kyai dengan mengajarkan agama
Islam. Diawali dari Cianjur dan Bogor, Pernah tinggal di Ciwaringin kaum
dan di Gang Kepatihan
Selama di Bogor beliau mengajar di
Madrasah Islamiyyah yang didirikan oleh mama Ajengan Rd Haji Mansyur dan
juga mengajar para Mu’alim yang berada disekitar Bogor. Satu tahun
tinggal di Bogor, pindah ke Semarang, disana hanya dua bulan kemudian
kembali lagi ke Bogor, untuk melanjutkan perjalanannya ke Cianjur.
Disana menjadi guru bantu di Madrasah Al I’anah.
Tahun 1930,
untuk yang kedua kalinya KH Abdullah bin Nuh kembali ke Bogor dan
tinggal di Panaragan, pekerjaan beliau adalah mengajar para Kyai dan
menjadi korektor Percetakan IHTIAR (inventaris S.I). selama 4 tahun
bermukim di Bogor. KH. Abdullah bin Nuh bersama Mama Ajengan Rd. H
Mansur, mendirikan Madrasah PSA (Penolong Sekolah Agama) yang berfungsi
sebagai wadah pemersatu madrasah-madrasah yang ada disekitar Bogor,
ketuanya adalah Mama Ajengan Rd. H Mansur, sedangkan KH Abdullah bin Nuh
terpilih sebagai Ketua Dewan Guru/Direktur.
Kuasai Bahasa Arab
Keahlian
utama yang dianugrahkan Allah SWT pada KH Abullah bin Nuh adalah
mengusai bahasa Arab, baik yang berbentuk prosa, puisi maupun dalam
berbicara, mengajar, menulis dan berceramah. Bahasa Arab yang keluar
dari lisan beliau amat fasih dan menarik, bukan saja bagi para Kyai dan
sahabat-sahabatnya di Indonesia yang mengerti dan memahami bahasa Arab,
tetapi bangsa Arab pun mengaguminya.
Pegawai-pegawai kedutaan
dari negeri Arab banyak yang senang bergaul dengan beliau, mereka
tertarik oleh bahasa Arab yang dilafadz-kannya, termasuk para duta
besar. Bahkan sesudah pindah ke Bogor pun masih ada beberapa duta besar
yang bersilaturahhmi ke Al Ghazaly hanya untuk beramah tamah dan
mendengar tutur katanya yang menarik hati.
Oleh karena
kefasihannya dalam menggunakan bahasa Arab, pada saat umroh tahun 1979,
Abdullah bin Nuh berkenalan dengan seorang pejabat tinggi Yordan,
kemudian diundangnya untuk berceramah di Amman Yordan. Hingga akhrnya
yang mulia Amir Hasan adik Raja Yordan memberi bea siswa untuk Mustofa
salah seorang putranya dan kawan-kawannya belajar di Yordan University.
Tulisan
KH Abdullah bin Nuh dalam bahasa Arab pun sangat menarik, buku-buku
yang dikarang sepanjang hidupnya sebanyak 26 judul. Tidak sedikit
kenalannya di Timur Tengah yang menyuruh anak-anaknya supaya menghafal
salah satu tulisan Abdullah bin Nuh yang berjudul “Persaudaraan Islam”.
Yang ditulisnya pada tahun 1925 ketika mengajar di Hadramaut School.
Bahasa
Arab yang dikusai KH Abdullah bin Nuh betapa menjadi suatu pesona yang
banyak menarik sahabat karib dan juga para Habaib. Bahkan, semasih
tinggal di jalan Pasabean 66, almarhum Habib Abdullah Alatas (ayah Habib
Alatas Menteri Luar Negeri Era Orde Baru) sering silaturahhmi kerumah
Abdullah bin Nuh hingga larut malam. Dari keahliannya itu pula KH
Abdullah bin Nuh memimpin siaran bahasa Arab di RRI, mengajar di
Universitas Indonesia, memimpin majalah berbahasa Arab APB (Arabian
Press Board) mengadakan Academi Bahasa Arab di Menteng Raya (Cikini) dan
mengajar KH Abdullah Syafe’i, KH Abdu Rosyid dan Dr Hj Tuti Alawiyah.
Disamping
mengusai bahasa Arab dalam bentuk prosa, KH Abdullah bin Nuh pun ahli
menggubah Syi’ir dalam bahasa Arab. Syi’ir-syi’ir karangannya dihimpun
dalam suatu buku atau diwan. Sayangnya, diwan itu kini tidak ketahuan
lagi dimana rimbanya, Dulu Diwan itu pernah dipinjam oleh salah seorang
bekas muridnya di STI yang akan menempuh ujian di Al Azhar (Cairo) untuk
melengkapi disertasinya, kembali ke Indonesia murid beliau tersebut
menjadi rektor IAIN. Tetapi diwatu itu?. Wallaahu a’lamu.
Selain
ketanah suci untuk haji dan umroh, KH Abdullah bin Nuh pun pernah
beberapa kali melawat ke luar negeri, seperti ke Australia, Malaysia,
Singapore, India, Iran, Yoradan dan Mesir. Kepergian KH Abduillah bin
Nuh ke Makkah yang terakhir ialah pada tahun 1983. Kondisi kesehatannya
sudah sangat menurun, Beliau ingin beristirahat di Sukaraja. Kebetulan
di Gang Ardio Tanah Sewa punya hibah tanah dari almarhum H Jamhur. Tanah
itu dijualnya dan membeli tanah serta membangun rumah di Sukaraja.
Keluarganya pernah juga tinggal disana, tetapi tidak lama kemudian
pindah lagi ke Al-Ghazaly
Sekembalinya dari Makkah, kondisi dan
kesehatannya semakin menurun, apa lagi setelah anak yang dibanggakannya
Dr Aminah meninggal setahun sebelumnya. Beliau kerap berkata sendirian
“Mien..bukan mama tidak ridho, tetapi mama ingat saja”. Ternyata itu
adalah merupakan isyarat untuk keluarganya, karena tidak berselang lama
Abdullah bin Nuh mangkat menyusul anak tercintanya.
KH Abdullah bin Nuh wafat menjelang magrib pada hari Senin tanggal 3 Robi’ul awwal 1987 di rumah Al Ghazaly Jl Cempaka No 6 Kota Paris Bogor. Dimakamkan keesok harinya di Sukaraja berdampingan dengan anak kebanggaannya Dr Aminah. Almarhum meninggalkan seorang istri dan sepuluh anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar