PERSAUDARAAN ISLAM
Oleh : KH Abdullah
Bin Nuh
![]() |
| KH. Abdullah bin Nuh |
Anda adalah saudaraku. Betapa
keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun
warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tidak kenal aku dan tidak tahu
siapa bundaku. Walaupun aku tidak pernah tinggal serumah dengan anda dan belum
pernah seharipun hidup bersama anda di bawah satu atap langit.
Anda adalah saudaraku. Walaupun
anda berpangkat tinggi. Mendapat kedudukan yang mulia. Menguasai ilmu yang
luas. Dan mempunyai pengaruh yang besar. Atau memiliki harta yang banyak.
Anda adalah saudaraku walaupun misalnya anda penduduk planet Mars dan aku hanya penghuni planet beredar bernama bumi ini.
Tidak. Tidak usah anda bersusah
payah mencari-cari buku sejarah silsilah keturunan. Jangan memaksa-maksa diri
mencari-cari dari catatan-catatan nenek moyang. Jangan pula anda bersedih
lantaran aku bukan si Anu putra si Anu dari famili Anu. Atau lantaran kita tidak
bertemu pada nenek pertama atau nenek kesepuluh atau keseratus atau seterusnya
hingga berujunglah penelitian kita kepada bapak-bapak kita Nabi Adam dan Ibu
Hawa, tatkala keduanya makan buah fana ini. Tidak usah begitu! Karena hubungan
semacam ini kadang-kadang terjadi antara seorang penghuni syurga dan seorang
lagi kekal di neraka.
Namun anda adalah saudaraku…
karena anda adalah seorang Muslim. Setelah itu aku tak peduli apakah anda orang
Eropa, India, Turki, atau Cina. Bangsa Barat atau Timur. Atau apa saja yang
anda kehendaki. Karena ini merupakan penggolongan-penggolongan sederhana yang tidak
berarti bagiku setelah kurenungkan dalam-dalam.
Anda saudaraku. Karena kita
bersama-sama menyembah Tuhan yang Satu. Mengikuti Rasul yang satu. Menghadap
kiblat yang satu. Dan terkadang kita berkumpul di sebuah padang yang luas,
yaitu padang Arafah. Kita sama2 lahir dari hidayah Allah. Menyusu serta
menyerap syariat Nabi Muhammad SAW. Kita sama2 bernaung di bawah langit
kemanusiaan yang sempurna. Dan sama2 berpijak pada bumi kepahlawanan yang utama.
Katakanlah demi Tuhanmu. Di ufuk
mana di jagat raya ini terdapat persaudaraan yang lebih utama dari pada ini?
Jangan sampai Allah mempertemukan kita apabila kita tidak beriman pada-Nya dan
tidak berlindung kepada benteng pertahanan ini.
Marilah wahai saudaraku sayang.
Kita duduk bersama-sama sebagaimana layaknya dua saudara atau dua sahabat
karib. Kita saling memperbincangkan hal ini. Dan yang kita jadikan sebagai
sarana bertukar fikiran serta alat pemersatu kita adalah bahasa yang dipakai
Allah dalam menurunkan kitab yang kita baca bersama siang malam itu (yaitu
bahasa Arab), jangan kau ragu ungkapkan isi hatimu padaku! Rasa takut. Harapan.
Kenyerian. Kenikmatan. Kegembiraan. Dan Kesedihan. Karena aku ingin berbagi
rasa dalam hal ini. Demi Allah, aku sungguh sangat ingin!
Mari wahai saudaraku sayang. Kita
bahu membahu mengibarkan setinggi-tingginya bendera suci dan agung ini. Agar
orang-orang di barat maupun di timur melihatnya berkibar di angkasa. Sehingga
bergabunglah kepadanya siapa saja orang-orang yang telah ditulis Allah sebagai orang
yang bahagia di dunia dan di akhirat. Dan akan berpalinglah siapa saja orang yang
ditulis Allah sebagai orang yang celaka.
Mari wahai saudaraku sayang. Kita
singkap sejenak dari hadapan kita penutup tipis dan tembus pandang yang kita
bentangkan antara kita. Yang kita anyam dengan tangan-tangan kita sendiri dari
benang-benang perbedaan pandangan dan salah faham dalam masalah mazhab yang
sepele itu. Dan nun jauh disana. Di dalam kehangatan kalimah tauhid pemersatu
kita. Dari kampung ikatan rohani. Kita bersatu tolong menolong. Bantu membantu.
Bahu membahu. Mengurus kepentingan-kepentingan kita bersama. Di sanalah
tercapainya cita-cita kita. Marilah kita bersepakat mengerjakan
kewajiban-kewajiban kita. Mengembalikan keluhuran kita yang telah rusak.
Membangun kembali bangunan kita yang telah runtuh.
Alangkah merdunya bicaramu wahai
saudaraku sayang. Alangkah agungnya keikhlasanmu yang nampak di wajahmu nan
cerah. Alangkah indahnya kasih sayangmu yang bersenandung dalam untaian
kata2mu. Betapa sucinya cita-citamu yang memancar dari mata air nan suci yang
mengalir dari lubuk hatimu. Alangkah besar gairahmu terhadap agama kita yang
Haq ini.
Ya. Dibalik samudra bebas yang
menggunung gelombangnya. Dibalik lautan jihad yang terus menerus. Dan dibalik
kesabaran tiada terbatas. Disana ditempat yang jauh, akan kita temukan mutiara yang
hilang yang kita cari. Yang kini masih terpendam di dalam lumpur impian dan
kenyataan. Yang digenangi oleh Nur kejayaan dan keindahan. Kesemuanya itu
tergantung pada bersatunya kekuatan. Jernihnya akal fikiran. Pimpinan yang bijaksana.
Niat yang ikhlas. Mati yang lebih gembira menyaksikan kejayaan umat dari pada
terpenuhinya keinginan hawa nafsu. Penuh kesabaran dan keyakinan teguh. Dengan
itulah kita membuat kapal untuk menjalani tugas dan menghasilkan cita-cita.
Karena saat terpenting di dalam sejarah kebangkitan kita ialah saat dimana
kapal itu akan membongkar sauh dan memulai pelayarannya yang agung. Maka berkibarlah
bendera dan berkumpullah para penumpang.
Lantas berserulah Sang Penyeru,
“Naiklah ke kapal dengan nama Allah saat berlayar dan saat berlabuhnya. Sungguh
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar