Jumat, 13 September 2013

Syair Mama KH. Abdullah bin Nuh



PERSAUDARAAN ISLAM
Oleh : KH Abdullah Bin Nuh

KH. Abdullah bin Nuh
Anda adalah saudaraku. Betapa keadaan anda dan apapun kebangsaan anda. Apapun bahasa anda dan bagaimanapun warna kulit anda. Anda saudaraku walaupun anda tidak kenal aku dan tidak tahu siapa bundaku. Walaupun aku tidak pernah tinggal serumah dengan anda dan belum pernah seharipun hidup bersama anda di bawah satu atap langit.

Anda adalah saudaraku. Walaupun anda berpangkat tinggi. Mendapat kedudukan yang mulia. Menguasai ilmu yang luas. Dan mempunyai pengaruh yang besar. Atau memiliki harta yang banyak.

Anda adalah saudaraku walaupun misalnya anda penduduk planet Mars dan aku hanya penghuni planet beredar bernama bumi ini.

Tidak. Tidak usah anda bersusah payah mencari-cari buku sejarah silsilah keturunan. Jangan memaksa-maksa diri mencari-cari dari catatan-catatan nenek moyang. Jangan pula anda bersedih lantaran aku bukan si Anu putra si Anu dari famili Anu. Atau lantaran kita tidak bertemu pada nenek pertama atau nenek kesepuluh atau keseratus atau seterusnya hingga berujunglah penelitian kita kepada bapak-bapak kita Nabi Adam dan Ibu Hawa, tatkala keduanya makan buah fana ini. Tidak usah begitu! Karena hubungan semacam ini kadang-kadang terjadi antara seorang penghuni syurga dan seorang lagi kekal di neraka.

Namun anda adalah saudaraku… karena anda adalah seorang Muslim. Setelah itu aku tak peduli apakah anda orang Eropa, India, Turki, atau Cina. Bangsa Barat atau Timur. Atau apa saja yang anda kehendaki. Karena ini merupakan penggolongan-penggolongan sederhana yang tidak berarti bagiku setelah kurenungkan dalam-dalam.

Anda saudaraku. Karena kita bersama-sama menyembah Tuhan yang Satu. Mengikuti Rasul yang satu. Menghadap kiblat yang satu. Dan terkadang kita berkumpul di sebuah padang yang luas, yaitu padang Arafah. Kita sama2 lahir dari hidayah Allah. Menyusu serta menyerap syariat Nabi Muhammad SAW. Kita sama2 bernaung di bawah langit kemanusiaan yang sempurna. Dan sama2 berpijak pada bumi kepahlawanan yang utama.

Katakanlah demi Tuhanmu. Di ufuk mana di jagat raya ini terdapat persaudaraan yang lebih utama dari pada ini? Jangan sampai Allah mempertemukan kita apabila kita tidak beriman pada-Nya dan tidak berlindung kepada benteng pertahanan ini.

Marilah wahai saudaraku sayang. Kita duduk bersama-sama sebagaimana layaknya dua saudara atau dua sahabat karib. Kita saling memperbincangkan hal ini. Dan yang kita jadikan sebagai sarana bertukar fikiran serta alat pemersatu kita adalah bahasa yang dipakai Allah dalam menurunkan kitab yang kita baca bersama siang malam itu (yaitu bahasa Arab), jangan kau ragu ungkapkan isi hatimu padaku! Rasa takut. Harapan. Kenyerian. Kenikmatan. Kegembiraan. Dan Kesedihan. Karena aku ingin berbagi rasa dalam hal ini. Demi Allah, aku sungguh sangat ingin!

Mari wahai saudaraku sayang. Kita bahu membahu mengibarkan setinggi-tingginya bendera suci dan agung ini. Agar orang-orang di barat maupun di timur melihatnya berkibar di angkasa. Sehingga bergabunglah kepadanya siapa saja orang-orang yang telah ditulis Allah sebagai orang yang bahagia di dunia dan di akhirat. Dan akan berpalinglah siapa saja orang yang ditulis Allah sebagai orang yang celaka.

Mari wahai saudaraku sayang. Kita singkap sejenak dari hadapan kita penutup tipis dan tembus pandang yang kita bentangkan antara kita. Yang kita anyam dengan tangan-tangan kita sendiri dari benang-benang perbedaan pandangan dan salah faham dalam masalah mazhab yang sepele itu. Dan nun jauh disana. Di dalam kehangatan kalimah tauhid pemersatu kita. Dari kampung ikatan rohani. Kita bersatu tolong menolong. Bantu membantu. Bahu membahu. Mengurus kepentingan-kepentingan kita bersama. Di sanalah tercapainya cita-cita kita. Marilah kita bersepakat mengerjakan kewajiban-kewajiban kita. Mengembalikan keluhuran kita yang telah rusak. Membangun kembali bangunan kita yang telah runtuh.

Alangkah merdunya bicaramu wahai saudaraku sayang. Alangkah agungnya keikhlasanmu yang nampak di wajahmu nan cerah. Alangkah indahnya kasih sayangmu yang bersenandung dalam untaian kata2mu. Betapa sucinya cita-citamu yang memancar dari mata air nan suci yang mengalir dari lubuk hatimu. Alangkah besar gairahmu terhadap agama kita yang Haq ini.

Ya. Dibalik samudra bebas yang menggunung gelombangnya. Dibalik lautan jihad yang terus menerus. Dan dibalik kesabaran tiada terbatas. Disana ditempat yang jauh, akan kita temukan mutiara yang hilang yang kita cari. Yang kini masih terpendam di dalam lumpur impian dan kenyataan. Yang digenangi oleh Nur kejayaan dan keindahan. Kesemuanya itu tergantung pada bersatunya kekuatan. Jernihnya akal fikiran. Pimpinan yang bijaksana. Niat yang ikhlas. Mati yang lebih gembira menyaksikan kejayaan umat dari pada terpenuhinya keinginan hawa nafsu. Penuh kesabaran dan keyakinan teguh. Dengan itulah kita membuat kapal untuk menjalani tugas dan menghasilkan cita-cita. Karena saat terpenting di dalam sejarah kebangkitan kita ialah saat dimana kapal itu akan membongkar sauh dan memulai pelayarannya yang agung. Maka berkibarlah bendera dan berkumpullah para penumpang.

Lantas berserulah Sang Penyeru, “Naiklah ke kapal dengan nama Allah saat berlayar dan saat berlabuhnya. Sungguh Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar