Oleh: Ismail Syakban, S.Pd.I
| KH. Abdullah bin Nuh |
PENDAHULUAN
Islam adalah agama samawi
terakhir yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai pelengkap
dan penyempurna agama samawi sebelumnya. Islam bersifat universal dan abadi
dalam kapasitasnya sebagai agama pelengkap dan penyempurna itu. Islam sebagai
petunjuk Illahi mengandung nilai-nilai pendidikan yang akan dan mampu
membimbing dan mengarahkan manusia menjadi individu sempurna (insan kamil)
melalui proses tahapan yang terarah dan terencana.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka aspek pendidikan Islam berperan sangat penting. Pendidikan Islam harus dilaksanakan dan dikembangkan secara konsisten serta mengacu kepada landasan Al-Qur’an dan Hadits. Adapun tujuan pendidikan Islam harus sejalan dengan tujuan Islam itu sendiri, yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah. Menurut Al-Attas yang tertera dalam bukunya Ahmad Tafsir bahwa tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia yang baik. Pendapat ini diperkuat oleh Al-Ghazali bahwa tujuan pendidikan melahirkan manusia yang sempurna (insan kamil) yang selalu bertaqorrub kepada Allah SWT. Menjadikan lembaga dan proses pendidikan sebagai wadah untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai Sang Pencipta.
Dilihat dari segi statusnya,
lembaga pendidikan dapat dibagi ke dalam lembaga pendidikan pemerintah
(negeri), dan lembaga pendidikan non pemerintah (swasta). Sedangkan dilihat
dari segi bentuknya terdapat lembaga pendidikan formal, dan lembaga pendidikan
non-formal. Dalam perjalanannya, lembaga pendidikan pemerintah berasal dari
lembaga pendidikan non-pemerintah, begitu pula lembaga pendidikan formal
berawal dari lembaga pendidikan non-formal.
KH. Raden Abdullah Bin Nuh adalah
salah satu ulama Jawa Barat dan termasuk tokoh pembaharu pendidikan Islam yang
berhasil mengembangkan lembaga pendidikan non-pemerintah (swasta), dan
mengembangkan lembaga pendidikan formal dan non-formal. Namanya amat popular di
Jawa Barat, khususnya di Bogor, karena sebagian besar lembaga pendidikan yang
didirikannya itu berada di daerah kota hujan itu.
Berbicara mengenai konsep dan
pemikiran tentang pendidikan, maka kita tidak jauh dari memperbincangkan
berbagai macam tokoh-tokoh pemikiran Pendidikan Islam, baik tokoh klasik
ataupun tokoh modern. Salah satunya adalah KH. Raden Abdullah Bin Nuh. Maka,
pada modul kecil ini akan mengupas tuntas seputar bagaimana pemikiran KH. Raden
Abdullah Bin Nuh sebagai penggagas lembaga pendidikan non-formal atau
non-pemerintah tentang pendidikan Islam.
PEMBAHASAN
Riwayat Hidup KH. Raden Abdullah
Bin Nuh
KH. Abdullah Bin Nuh adalah
seorang ulama Indonesia yang terkenal, sastrawan Arab, Pendidik, pejuang
kemerdekaan. Beliau lahir di Cianjur, Jawa Barat pada tanggal 30 Juni 1905
Masehi bertepatan dengan 26 Rabiul Tsani 1324 Hijrah, dan wafat di Bogor, Jawa
Barat pada tanggal 26 Oktober 1987 Masehi bertepatan dengan 3 Rabiul Awwal 1407
Hijrah, dalam usia 82 tahun. Ayahnya bernama KH. Raden Muhammad Nuh, beliau
salah seorang ulama besar di Cianjur pada zamannya. Dan ibunya Nyi Raden Hj
Aisyah, seorang ibu rumah tangga yang taat menjalankan perintah agama serta
taat, patuh dan selalu mengabdi kepada suaminya.
Dilihat dari silsilahnya,
Abdullah Bin Nuh termasuk keturunan ningrat, suatu kelompok priyayi yang
memiliki status sosial yang terhormat. Abdullah Bin Nuh putra dari KH Raden
Muammad Nuh, putra dari Raden H. Idris, putra dari Raden Arifin, putra dari
Raden H. Shaleh, putra dari Raden H. Muhyidin Natapraja, putra dari Raden Aria
Wiratanudatar V (Dalem Muhyidin), putra dari Raden Aria Wiratanudatar IV (Dalem
Sabiruddin), putra dari Raden Aria Wiratanudatar III (Dalem Astramanggala),
putra dari Raden Aria Wiratanudatar II (Dalem Wiramanggala), putra dari Raden
Aria Wiratanudatar I (Dalem Cikundul).
Selain hidup dalam keluarga
ningrat, beliau juga dibesarkan dalam lingkungan yang Islami taat beragama.
Sejak kecil Abdullah Bin Nuh telah memperlihatkan karakteristik yang ramah
serta memiliki akhlak yang baik. Sungguhpun ia berasal dari keluarga yang
terhormat, tapi memperlihatkan sikap rendah hati, ramah dan suka bergaul dengan
kalangan masyarakat banyak di sekitarnya.
Riwayat pendidikannya dimulai
dari belajar agama Islam di Madrasah I’anatut Thalibin Muslimin, suatu lembaga
pendidikan Islam yang didirikan oleh ayahnya sendiri di Cianjur. Karena
didukung oleh kesungguhan belajar dan kecerdasannya, sejak usia mudanya ia
telah memperlihatkan kemampuannya dalam bahasa Arab dengan orang tua dan
keluarga di lingkungan keluarganya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Dan
telah sanggup menghafal kitab al-fiah, yaitu kitab tentang gramatika bahasa Arab
karangan Imam Malik, sambil disaksikan oleh gurunya sendiri.
Setelah tamat dari madrasah
tersebut, ia melanjutkan studinya ke Madrasah Arabiyah yang bernama Syamailul
Huda di kota Semarang, Jawa Tengah. Madrasah ini diasuh oleh seorang ulama yang
berpandangan luas, yaitu Sayyid Muhamma Bin Hassim bin Thahir al-Alawy al-Hadad
al-Hadrami, keturunan dari Hadramaut. Pada umur 17 tahun Abdullah Bin Nuh
meninggalkan kota Semarang dan melanjutkan studinya ke Surabaya, Jawa Timur. Di
kota inilah ia bersama gurunya mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Hadramaut
School, di sekolah ini juga ia melatih diri dengan berdiskusi, belajar dan
berpidato, keterampilan bahasa asing (Bahasa Arab, Inggris, Jerman, Perancis
dan Belanda).
Dengan bekal ilmu Bahasa Arab
yang kuat dan dirasa sudah mapan, Abdullah Bin Nuh dikirim oleh gurunya ke
Kairo Mesir pada tahun 1929 untuk mendalami ajaran Islam. Bersamaan dengan 15
orang teman lainnya, Abdullah Bin Nuh menimba ilmu agama Islam kepada Syaikh
Ahmad Al-Dirham, dan selanjutnya ia diterima belajar di Universitas Al-Ahzar
Kairo. Setelah beberapa tahun disana, ia berhasil meraih gelar Syahadatul
Alimiyyah sehingga ia berhak mengajar. Di Universitas ini pula Abdullah Bin Nuh
mendalami ilmu fiqh mazhab Syafii dan bidang studi lainnya.
Setelah merasa memiliki ilmu yang
memadai, Abdullah bin Nuh mulai melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan
dalam masyarakat. Menurut catatan sejarah, Abdullah Bin Nuh termasuk salah
seorang anggota Pembela Tanah Air (PETA), bahkan ia diangkat sebagai
komandannya. Sehubungan dengan perannya ini, maka pada tahun 1943-1945 ia
termasuk kader PETA yang aktif mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Sekitar tahun 1945-1946 melalui barisan Hizbullah ia menjadi pemimpin di Badan
Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di kota Bogor dan
Cianjur. Pada tahun 1948-1950 beliau menjadi anggota komite Nasional Indonesia
pusat (KNIP) di Yogyakarta, disamping sebagai kepada seksi bahasa Arab di Radio
Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta dan dosen luar biasa di Universitas Islam
Indonesia (UII).
Selain itu, Abdullah bin Nuh juga
berperan aktif dalam memelopori berdirinya Arabian Press Board (APB) serta
menjadi dosen dalam program sastra Arab di Universitas Indonesia. Seiring
dengan itu beliau juga aktif sebagai pemimpin redaksi majalah Pembina. Melalui
majalah inilah Abdullah Bin Nuh banyak mengeluarkan gagasannya tentang Ukhuwah
Islamiyah, terutama kepada para peserta Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA)
yang dilaksanakan di Bandung. Peran lain yang dilakukan oleh Abdullah Bin Nuh
adalah dalam bidang Pendidikan Islam, teologi/tasawuf, sejarah dengan aktifitas
kenegaraan lainnya.
Buah Karya KH. Abdullah Bin Nuh
Di tengah-tengah kesibukannya
dalam menjalankan aktifitas kesehariannya, Abdullah bin Nuh masih menyempatkan
menyelipkan waktu untuk memunculkan karya-karyanya. Diantara karyanya ialah: 1)
Kitab fi Dzilal al-ka’bah al-haram. Dalam kitab ini, Abdullah bin Nuh
menjelaskan tentang peranan ka’bah sebagai lambing pemersatu umat Islam dan
rumah pertama yang dibangun sebagai tempat perlindungan di bawah kalimat
Tauhid. Kitab 2) la thaifiyata fi al-islam. Dalam kitabnya ini Abdullah Bin Nuh
menjelaskan pentingnya berjihad bagi seorang Muslim yang memiliki persyaratan.
Kitab 3) al-alam al-islamiyyah. Melalui kitab ini Abdullah bin Nuh menjelaskan
tentang dunia Islam yang amat kaya dengan ilmu pengetahuan dan peradaban.
4) Terjemahan kitab munqiz
al-Dlalal (terbebas dari kesesatan) karya Imam Al-Ghazali. Kitab ini
menceritakan perjalan batin Imam Al-Ghazali dari satu negeri ke negeri lain
dalam rangka mencari kebenaran. Karena Imam Al-Ghazali mengalami keraguan dan
ketidakyakinan terhadap kebenaran ilmu kalam, filsafat yang didalamnya banyak
pendapat yang saling bertentangan. Karya beliau selanjutnya adalah 5) Mu’allimu
al-arabiyyah (Guru Bahasa Arab). Buku ini berisi uraian tentang cara-cara
mengajar Bahasa Arab yang efektif. Buku ini sangat berguna bagi guru yang
mengajar Bahasa Arab. Kemudian buku 6) Al-lu’lu al-Mantsur. Buku ini berbicara
tentang nilai-nilai luhur yang seharusnya berpengaruh di dalam kehidupan
manusia, yang dalam hal ini adalah nilai-nilai ajaran Islam.
7) Al-Mustashfa. Buku ini berisi
tentang kajian fiqh dalam Islam. Dilanjutkan dengan buku 8) Jalan bagi ahli
ibadah. Sesuai judulnya buku ini berisi tentang keutamaan orang-orang yang
senantiasa beribadah kepada Allah SWT. 9) Ana muslim sunniyyun syafi’iyyun.
Buku ini merupakan refleksi dari sikap Abdullah bin Nuh yang tegas dan gamblang
sebagai seorang penganut sunni. 10) Zakat modern. Melalui buku ini Abdullah bin
Nuh mencoba melakukan terobosan baru dalam memahami dan mengamalkan zakat dari
keadaan yang tradisional kepada keadaan yang modern tentunya dengan membawa
misi kebaikan bagi kehidupan sosial, ekonomi masyarakat dan menghilangkan
kesenjangan sosial.
Melalui buku 11) Keutamaan
keluarga Rasulullah tampaknya Abdullah bin Nuh ingin memperkenalkan akhlak
Rasulullah dan mengajak masyarakat agar meneladaninya. Kemudian buku 12) Hadits-hadits
Mahdi yang berbicara tentang hadits-hadits yang mengandung kontroversial, yaitu
hadits-hadits tentang Mahdi dan kemungkinan datangnya Mahdi sebelum hari kiamat
tiba. Disusul dengan buku 13)Islam dan marxisme. Sepertinya melalui buku ini
Abdullah bin Nuh ingin menyampaikan bahwa ajaran Marxisme tidak sejalan dengan
ajaran Islam yang mendasari pada ajaran tauhid. Buku 14) Sejarah Islam di Jawa
Barat memberitahukan kepada masyarakat Jawa Barat terkait masuknya Islam ke
Jawa Barat. Kemudian ada sebuah buku yang berisi tentang beberapa keterangan
yang memperjelas ahlu al-sunnah wa al-jama’ah yaitu buku 15) Barahin Nuayyid
Ahl Al-Sunnah wal jama’ah. Abdullah bin Nuh juga ingin mencoba memberikan
penerangan kepada masyarakat tentang penerapan riba dengan bukunya yang
berjudul 16) Nushush fi al-hibbah, dan melalui buku 17) al-Islam wa al-Syubhat
al-ashriyah Abdullah bin Nuh mencoba memberikan penerangan tentang masalah
syubhat yang berkembang di masyarakat dan terakhir dari sekian banyak bukunya
yang berjudul 18) Ummah wahidah adalah buku yang membicarakan bagaimana tata
cara mempersatukan umat Islam.
Gagasan dan Pemikiran Pendidikan
KH. Abdullah Bin Nuh
Gagasan dan pemikiran pendidikan
KH. Raden Abdullah Bin Nuh secara implisit dapat ditelusuri dari berbagai karya
tulis seta aktifitasnya sebagai mana yang telah diuraikan pada point
sebelumnya. Dari berbagai judul buku yang ditulisnya tersebut secara eksplisit
tidak ada yang berjudul pendidikan dalam arti ilmu pendidikan, yang dijumpai
dalam buku tersebut adalah nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan ke dalam
jiwa masyarakat. Dengan demikian, Abdullah Bin Nuh dapat dikatakan sebagai
praktisi pendidikan, yaitu orang yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya
untuk mendidik masyarakat. Dari berbagai upaya dan kiprahnya itu dapat
diidentifikasi aspek-aspek pendidikan yang dimajukan oleh Abdullah Bin Nuh.
Tujuan Pendidikan
Sebelum mengutarakan tujuan
pendidikan menurut KH Raden Abdullah Bin Nuh, berikut akan dikemukakan tujuan
pendidikan Islam menurut para ahli yang ternukil dalam buku Ahmad Tafsir “ilmu
Pendidikan dalam Perspektif Islam”: menurut Muhammad Naquib Al-Attas, tujuan
pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik. Menurut Marimba, tujuan
pendidikan Islam adalah terbentuk manusia yang berkepribadian Muslim. Menurut
Al-Abrasyi, tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang berakhlak
mulia. Kemudian menurut Munir Mursyi, tujuan akhir pendidikan Islam adalah
membentuk manusia yang sempurna dan menurut Abdul Fatah, tujuan pendidikan
Islam adalah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah SWT.
Abdullah Bin Nuh menginginkan
agar pendidikan diarahkan untuk menghasilkan manusia yang dapat mengabdikan
dirinya kepada Allah SWT. Melalui berbagai aktifitas yang seluas-luasnya.
Manusia yang demikian itulah yang akan dirasakan manfaatnya baik untuk dirinya
sendiri ataupun bagi orang lain. Rumusan tujuan pendidikan demikian berdasarkan
pada pengamatannya dimana umat Islam pada saat itu masih kurang memperlihatkan
perhatiannya bagi kemajuan masyarakat. Pendidikan harus menolong masyarakat
agar mampu melakukan perannya itu.
Dalam menentukan tujuan
pendidikan, Abdullah Bin Nuh berangkat dari visi dan misinya yang bercita-cita
akan mengatur lembaga pendidikan yang diasuhnya, dan dirumuskan melalaui tujuan
jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka panjang yaitu para murid
atau santri belajar ilmu agama dan diharapkan bisa menjadi alim ulama. Tujuan
jangka pendek adalah meraih gelar sarjana, “sarjana yang ulama, ulama yang
sarjana”.
Materi Pendidikan
Berdasarkan pada kiprahnya di
lembaga pendidikan, Abdullah bin Nuh menginginkan materi pendidikan di samping
memuat pelajaran agama, juga memuat mata pelajaran umum dan penguasaan kepada
ilmu pengetahuan dan teknologi serta dengan berbagai keterampilan yang
dibutuhkan oleh masyarakat.
Berbicara mengenai materi, maka
akan menyinggung kepada kurikulum yang digunakan. Kurikulum adalah sejumlah
pengalaman pendidikan, kebudayaan, social, olah raga, kesenian yang disediakan
oleh sekolah bagi muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong
mereka agar dapat merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan
pendidikan.
Manajemen Pendidikan
Abdullah Bin Nuh menyadari dengan
sepenuhnya bahwa untuk memajukan suatu lembaga pendidikan perlu adanya suatu
manajemen yang kuat dan handal. Gagasan ini diwujudkan dengan cara membangun dan
membentuk yayasan lengkap dengan sistem organisasinya yang handal sebagaimana
tersebut di atas.
Kepribadian Guru
Secara teoritis, Abdullah bin Nuh
tidak membahas tentang guru. Namun secara substantive fungsional ia begitu kuat
keinginannya untuk menghasilkan tenaga-tenaga guru yang handal dan
professional. Hal yang demikian ia lakukan dengan cara memberikan kepercayaan
kepada para muridnya yang senior untuk bertugas sebagai guru sekaligus memimpin
lembaga pendidikan.
Kepribadian Murid
Kriteria seorang murid menurut
Abdullah bin Nuh adalah mempunyai jiwa yang bersih terhindar dari budi pekerti
yang hina, harus menjauhkan diri dari persoalan-persoalan duniawi dan masalah
yang dapat mengurangi keterkaitannya dengan kelancaran penguasaan ilmu. Lain
dari itu seorang peserta didik harus bersikap tawadhu dan rendah hati. Kemudian
peserta didik harus bisa dan dianjurkan belajar Al-Qur’an sebagai kepentingan
dasar dalam beribadah kemudian seorang peserta didik harus menguasai dan
mengenal sistem ilmu yang sedang dipelajarinya. Seorang murid juga dianjurkan
untuk mengenal nilai setiap ilmu yang dipelajarinya, kelebihan dari
masing-masing ilmu dan hasil-hasilnya yang mungkin dicapai hendaknya dipelajari
dengan baik.
Rasulullah SAW menggambarkan murid
itu adalah manusia yang bersih (fitrah), untuk hal mau dimana dan dengan
memakai apa, yang berperan adalah orang tua (guru). Majusi, Nasrani, Yahudi
atau dalam keadaan Islam (selamat), empat pilihan dalam mengantarkan pendidikan
anak-anak, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan
oleh Bukhari Muslim:
“Rasulullah SAW berkata: Setiap
orang dilahirkan membawa fitrah. Ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi,
Nasrani atau Majusi” (HR. Bukhari Muslim)
Hubungan Guru dan Murid
KH. Raden Abdullah Bin Nuh adalah
sesosok pendidik yang mengedepankan keteladanan, istiqomah dalam mengajar dan
keikhlasan dalam beramal. Melalui konsep persatuan umat, ia telah menjalin hubungan
yang baik dan harmonis antara guru dan murid melalui jalinan ainurrohmah (kasih
sayang), menyeru dengan hikmat dan nasihat yang baik tidak terbatas hanya
ditempat pertemuan ta’lim, akan tetapi hubungan dimanapun bertemu, untuk
selamanya, bahkan dunia-akhirat.
Dalam sejarahnya, hubungan guru
dan murid dalam Islam, ternyata sedikit demi sedikit berubah, nilai-nilai
ekonomi mulai masuk, seperti yang terjadi sekarang sebagai berikut: kedudukan
guru dalam Islam semakin merosot, hubungan guru dan murid kurang harmonis,
penghormatan murid kepada guru semakin turun dan harga karya mengajar semakin
tinggi.
Mengenai pola hubungan guru dan
murid, KH Raden Abdullah bin Nuh, sependapat dengan Al-Ghazali bahwa hubungan
guru dan murid seperti hubungan bapak dan anak. Seorang guru mengajar muridnya
seperti apa dia mengajar anaknya sendiri di rumah. Pendidik hendaknya memandang
peserta didik seperti anaknya sendiri, berdasarkan pada hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’I dan Ibn Majah bahwa “Sesungguhnya saya
dan kamu itu bagaikan bapak dan anak.”(HR. Abu Daud, An-Nasa’i dan Ibn Majah)
KESIMPULAN
Uraian singkat pemikiran KHR
Abdullah bin Nuh tentang pendidikan Islam di atas, maka dapat ditarik beberapa
benang merah (kesimpulan) sebagai berikut;
KHR. Abdullah bin Nuh bisa digolongkan
kepada tokoh praktisi pendidikan, bukan seorang yang menawarkan konsep dalam
suatu pendidikan Islam. Namun demikian beliau juga memiliki beberapa pemikiran
yang ditawarkan untuk diaplikasikan dalam pendidikan Islam.
Pemikiran pendidikan KHR. Abdullah
bin Nuh lebih mengutamakan akhlak (tasawuf). Hal ini terwujud dari berbagai
pengalaman dan pendalaman berbagai disiplin ilmu. Sekian banyak hasil karya
Al-Ghazali banyak memberikan ide dan menerbitkan gagasan-gagasan konsep
pendidikan KHR. Abdullah Bin Nuh. Ini terbukti dengan nama-nama lembaga
pendidikan diantaranya: Pesantren Al-Ghazali, Majlis Ta’lim Al-Ihya yang
keduanya berada di kota Bogor. Beliau juga menterjemahkan beberapa kitab
karangan Al-Ghazali seperti: Minhajul ‘abidin, sebagian dari kitab Ihya ‘ulumuddin,
serta materi yang menjadi bahan kajian mengkhususkan merujuk kitab Al-Ghazali.
KHR. Abdullah bin Nuh berpendapat
bahwa materi pendidikan merujuk kepada sumber utama yakni Al-Qur’an dan Sunnah,
ditambah pendapat para sahabat dan ulama-ulama salaf yang sejalan dengan
al-Qur’an dan Hadits Nabi. Semua unsur-unsur pendidikan harus mendukung kepada
pencapaian terhadap tujuan pendidikan yaitu sebagai wadah bertaqarrub kepada
Allah SWT.
Cita-cita KHR. Abdullah bin Nuh
yang sudah berjalan agar tetap dilanjutkan, dan cita-cita yang belum terlaksana
dapat diwujudkan agar dapat memberikan maslahat untuk umat Islam. Mari kita
dukung bersama untuk mewujudkannya, baik bantuan secara moril maupun materil
sebagai bentuk perjuangan kita di jalan Allah SWT. Diantara cita-cita beliau
yang belum tercapai adalah “Mempersatukan Umat Islam Seluruh Dunia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar