[Ditulis di majalah Al-Bahr Ed. I/Rajab 1430 H]
Usia
yang makin senja tak selalu menjadi hambatan bagi siapa saja untuk
menuntut ilmu. Banyak kaum bapak dan ibu yang menghabiskan masa tuanya
dengan menghadiri majlis-majlis ilmu. Semangat itu pula yang dimiliki
Ustadzah Hajjah Mursyidah Abdullah bin Nuh, untuk terus mendakwahkan
Islam melalui kegiatan mengajar di majlis ta’lim.
Di usianya yang ke-76 tahun, beliau masih menyempatkan mengajar dan menggoreskan tintanya untuk menuangkan berbagai buah pikirnya. Karya tulisnya yang teranyar ialah buku Annisa Fil Islam (Wanita dalam Islam), yang terbit pada akhir tahun 2008.
Segudang ilmu yang diajarkan kepada ribuan jamaah, diperolehnya dari berbagai guru, termasuk dari sang suami, KH Rd Abdullah bin Nuh (ABN). Pada masa awal pendidikannya, Ustadzah kelahiran Kebarongan, Jawa Tengah, ini sempat belajar di Sekolah Tinggi Islam di Yogyakarta (sekarang UII), kemudian hijrah ke Jakarta dan melanjutkan ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Indonesia.
“Sebelum belajar
di STI Yogyakarta, berbekal ijazah Sekolah Guru Biasa (SGB), nenek
sudah mengajar di Kudus,” kenang Ustadzah Hj. Mursyidah. Beliau juga
menceritakan, ketika hijrah ke Jakarta, penyusun Al-Huda wat-Tuqo,
ia tak langsung melanjutkan pendidikan. Saat itu beliau sempat mengajar
di beberapa majlis ta’lim dan sekolah di lingkungan tempatn tinggalnya.
Saat
memasuki usia 40 tahun, ustadzah yang berharap husnul khatimah, ini
melanjutkan pendidikan ke FKIP UI. Sebelum kuliah, beliau sempat
dibingungkan dengan tiga pilihan. “Ada jurusan sejarah, jurusan
psikologi, dan jurusan pendidikan. Tapi atas usulan kakek (KH ABN),
nenek memilih kuliah di jurusan pendidikan,” paparnya.
Setamatnya
dari kuliah, Ustadzah Hj. Mursyidah menyibukkan diri dengan mengajar di
beberapa sekolah dan majlis ta’lim serta menerjemahkan kitab-kitab
karya KH ABN. Satu di antara sekolah yang pernah disinggahinya untuk
mengajar ialah sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di Bondongan, Kota
Bogor.
Meskipun telah banyak majlis ta’lim yang pernah
diajarnya, beliau masih tetap ingin mengabdikan dirinya hingga
meninggaldunia di saat mengajar. “Itu harapan nenek, supaya mendapatkan
husnul khatimah,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar