Jumat, 20 September 2013

Hj. Mursyidah ABN: Ingin Meninggal Dunia Saat Mengajar

Oleh Yudin Taqyudin
[Ditulis di majalah Al-Bahr Ed. I/Rajab 1430 H]

Usia yang makin senja tak selalu menjadi hambatan bagi siapa saja untuk menuntut ilmu. Banyak kaum bapak dan ibu yang menghabiskan masa tuanya dengan menghadiri majlis-majlis ilmu. Semangat itu pula yang dimiliki Ustadzah Hajjah Mursyidah Abdullah bin Nuh, untuk terus mendakwahkan Islam melalui kegiatan mengajar di majlis ta’lim.

Di usianya yang ke-76 tahun, beliau masih menyempatkan mengajar dan menggoreskan tintanya untuk menuangkan berbagai buah pikirnya. Karya tulisnya yang teranyar ialah buku Annisa Fil Islam (Wanita dalam Islam), yang terbit pada akhir tahun 2008.

Segudang ilmu yang diajarkan kepada ribuan jamaah, diperolehnya dari berbagai guru, termasuk dari sang suami, KH Rd Abdullah bin Nuh (ABN). Pada masa awal pendidikannya, Ustadzah kelahiran Kebarongan, Jawa Tengah, ini sempat belajar di Sekolah Tinggi Islam di Yogyakarta (sekarang UII), kemudian hijrah ke Jakarta dan melanjutkan ke Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Indonesia.

“Sebelum belajar di STI Yogyakarta, berbekal ijazah Sekolah Guru Biasa (SGB), nenek sudah mengajar di Kudus,” kenang Ustadzah Hj. Mursyidah. Beliau juga menceritakan, ketika hijrah ke Jakarta, penyusun Al-Huda wat-Tuqo, ia tak langsung melanjutkan pendidikan. Saat itu beliau sempat mengajar di beberapa majlis ta’lim dan sekolah di lingkungan tempatn tinggalnya.

Saat memasuki usia 40 tahun, ustadzah yang berharap husnul khatimah, ini melanjutkan pendidikan ke FKIP UI. Sebelum kuliah, beliau sempat dibingungkan dengan tiga pilihan. “Ada jurusan sejarah, jurusan psikologi, dan jurusan pendidikan. Tapi atas usulan kakek (KH ABN), nenek memilih kuliah di jurusan pendidikan,” paparnya.

Setamatnya dari kuliah, Ustadzah Hj. Mursyidah menyibukkan diri dengan mengajar di beberapa sekolah dan majlis ta’lim serta menerjemahkan kitab-kitab karya KH ABN. Satu di antara sekolah yang pernah disinggahinya untuk mengajar ialah sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di Bondongan, Kota Bogor.

Meskipun telah banyak majlis ta’lim yang pernah diajarnya, beliau masih tetap ingin mengabdikan dirinya hingga meninggaldunia di saat mengajar. “Itu harapan nenek, supaya mendapatkan husnul khatimah,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar