Abdullah bin Nuh. Namanya tidak bisa dipisahkan dari nama al-Ghazali. Ulama,
cendekiawan, sastrawan, dan sejarawan ini bukan hanya dikenal sebagai
penerjemah buku-buku al-Ghazali, tetapi juga mendirikan sebuah perguruan Islam
bernama “Majlis al-Ghazali” yang berlokasi di Kota Bogor. Abdullah bin Nuh
lahir di Cianjur, Jawa Barat, pada 30 Juni 1905 (26 Rabiul Tsani 1323H). Ia
wafat di Bogor pada 26 Oktober 1987.
Kemampuannya dalam bahasa Arab memang mengagumkan. Abdullah bin Nuh mampu menggubah syair-syair dalam bahasa Arab. Ia juga menulis sejumlah buku dalam bahasa Arab. Mantan Menteri Agama, M. Maftuh Basyuni, yang pernah menjadi mahasiswanya di Jurusan Sastra Arab Universitas Indonesia, menceritakan bagaimana tingginya kemampuan bahasa Arab Abdullah bin Nuh. Di awal tahun 1960-an, Maftuh sempat membantu dosennya itu dalam menyiapkan naskah-naskah radio berbahasa Arab. Naskah yang disiapkan Maftuh selalu mendapat koreksi yang sangat teliti dari Abdullah bin Nuh. “Beliau sangat membimbing dan memberi semangat dalam mengkoreksi. Padahal, banyak sekali kesalahan yang saya buat,” kata Maftuh.
Lebih dari 20 buku telah dihasilkan oleh KH Abdullah bin Nuh
dalam berbagai bahasa. Diantara karyanya yang terkenal adalah : (1) Kamus
Indonesia-Inggris-Arab (bahasa Indonesia), (2) Cinta dan Bahagia
(bahasa Indonesia), (3) Zakat dan Dunia Modern (bahasa Indonesia), (4) Ukhuwah
Islamiyah (bahasa Indonesia), (5) Tafsir al Qur’an (bahasa
Indonesia), (6) Studi Islam dan Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Zaman
Keemasan Banten (bahasa Indonesia), (7) Diwan ibn Nuh (syiir terdiri
dari 118 kasidah, 2731 bait), (8) Ringkasan Minhajul Abidin (bahasa
Sunda), (9) Al Alam al Islami (bahasa Arab), (10) Fi Zhilalil Ka’bah
al Bait al Haram (bahasa Arab), (11) Ana Muslimun Sunniyun Syafi’iyyun (bahasa
Arab), (12) Muallimul Arabiyyah (bahasa Arab), (13) Al Islam wa al
Syubhat al Ashriyah (bahasa Arab), (14) Minhajul Abidin (terjemah ke
bahasa Indonesia), (15) Al Munqidz min adl-Dlalal, (terjemah ke
bahasa Indonesia), (16) Panutan Agung (terjemah ke bahasa Sunda).
Ada sejumlah sarjana yang menulis tentang Abdullah bin Nuh.
Diantaranya adalah Prof. Dr. H. Ridho Masduki menulis Disertasi doktor tentang
“Pemikiran Kalam dalam Diwan Ibn Nuh”. Drs. H. Iskandar Engku, menulis
Tesis Master tentang “Ukhuwah Islamiyah menurut Konsep KH Abdullah bin Nuh.”
E. Hidayat, menulis Skripsi untuk Sarjana S-1 tentang “KH Abdullah bin Nuh,
Riwayat Hidup dan Perjuangannya.”. Dudi Supiandi, menulis Tesis Master
tentang “Pemikiran KH Abdullah bin Nuh tentang Pendidikan Islam.”
Dr. Adian Husaini menuturkan pengalamannya berguru kepada
Abdullah bin Nuh di Majlis al-Ghazali, Bogor. Ketika itu, Adian bersama
sejumlah mahasiswa IPB secara rutin mengkaji kitab Ana Muslimun Sunniyyun
Syafi’iyyun. Menurut Adian, jika pembahasan memasuki masalah-masalah
khilafiah, beliau mengatakan, “Ini pendapat Mamak, terserah Ananda untuk
mengambil pendapat yang lain.” Mamak adalah sebutan akrab untuk Abdullah bin
Nuh. Beliau juga tetap berusaha melaksanakan shalat berjamaah di mushalla
al-Ghazali, meskipun sambil duduk. “Kadangkala rakaat pertama masih berdiri,
tapi rakaat kedua sudah shalat sambil duduk,” kenang Adian.
Dimana saya bisa dapatkan 'diwan ibn nuh'?
BalasHapus