Mengambil pelajaran dan hikmah
dari Insan Termulia sekaligus Utusan Allah yang berakhlak mulia, Rasulullah
Muhammad SAW memang selalu dan selalu menyegarkan batin kita.
Kali ini sebuah riwayat yang kami
kutip dari buku Menuju Mukmin Sejati (terjemahan Minhaj Al-Abidin karya Imam
Al-Ghazali ra.) yang diterjemahkan oleh Ustadz KH Abdullah bin Nuh ra. kami
persembahkan untuk kita renungkan.
Telah diceritakan oleh Ibnu al-Mubarak tentang seorang laki-laki yang bernama Khalid bin Ma’dan, dimana ia pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal ra., salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw.
“Wahai Mu’adz! Ceritakanlah
kepadaku suatu hadits yang telah engkau dengar langsung dari Rasulullah saw.,
suatu hadits yang engkau hafal dan selalu engkau ingat setiap harinya
disebabkan oleh sangat kerasnya hadits tersebut, sangat halus dan mendalamnya
hadits tersebut. Hadits yang manakah yang menurut engkau yang paling penting?”
Kemudian, Khalid bin Ma’dan
menggambarkan keadaan Mu’adz sesaat setelah ia mendengar permintaan tersebut,
“Mu’adz tiba-tiba saja menangis sedemikian rupa sehingga aku menduga bahwa
beliau tidak akan pernah berhenti dari menangisnya. Kemudian, setelah beliau
berhenti dari menangis, berkatalah Mu’adz: Baiklah aku akan menceritakannya,
aduh betapa rinduku kepada Rasulullah, ingin rasanya aku segera bersua dengan
beliau”
Selanjutnya Mu’adz bin Jabal ra.
mengisahkan sebagai berikut, “Ketika aku mendatangi Rasulullah saw., beliau
sedang menunggangi unta dan beliau menyuruhku untuk naik di belakang beliau.
Maka berangkatlah aku bersama beliau dengan mengendarai unta tersebut. Sesaat
kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, kemudian bersabdalah
Rasulullah saw.:”
“Alhamdulillah, segala puji hanya
bagi Allah yang memberikan ketentuan (qadha) atas segenap makhluk-Nya menurut
kehendak-Nya, ya Mu’adz!”. Aku menjawab, “Labbaik yaa Sayyidal Mursaliin”.
“Wahai Mu’adz! Sekarang akan aku
beritakan kepadamu suatu hadits yang jika engkau mengingat dan tetap menjaganya
maka (hadits) ini akan memberi manfaat kepadamu di hadhirat Allah, dan jika
engkau melalaikan dan tidak menjaga (hadits) ini maka kelak di Hari Qiyamah
hujjahmu akan terputus di hadhirat Allah Ta’ala!”
“Wahai Mu’adz! Sesungguhnya Allah
Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan tujuh Malaikat sebelum Dia menciptakan
tujuh lelangit dan bumi. Pada setiap langit tersebut ada satu Malaikat yang
menjaga khazanah, dan setiap pintu dari pintu-pintu lelangit tersebut dijaga
oleh seorang Malaikat penjaga, sesuai dengan kadar dan keagungan (jalaalah)
pintu tersebut.
Maka naiklah al-Hafadzah
(malaikat-malaikat penjaga insan) dengan membawa amal perbuatan seorang hamba
yang telah ia lakukan semenjak subuh hari hingga petang hari. Amal perbuatan
tersebut tampak bersinar dan menyala-nyala bagaikan sinar matahari, sehingga
ketika al-Hafadzah membawa naik amal perbuatan tersebut hingga ke Langit Dunia
mereka melipat gandakan dan mensucikan amal tersebut. Dan ketika mereka sampai
di pintu Langit Pertama, berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah:
“Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya! Akulah ‘Shaahibul
Ghiibah’, yang mengawasi perbuatan ghiibah (menggunjing orang), aku telah
diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal ini melewatiku untuk menuju
ke langit yang berikutnya!”
Kemudian naiklah pula al-Hafadzah
yang lain dengan membawa amal shalih diantara amal-amal perbuatan seorang
hamba. Amal shalih itu bersinar sehingga mereka melipat-gandakan dan
mensucikannya. Sehingga ketika amal tersebut sampai di pintu Langit Kedua,
berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian!
Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya, karena ia dengan amalannya
ini hanyalah menghendaki kemanfaatan duniawi belaka! Akulah ‘Malakal Fakhr’,
malaikat pengawas kemegahan, aku telah diperintah Rabb-ku untuk tidak
membiarkan amal perbuatan ini melewatiku menuju ke langit berikutnya,
sesungguhnya orang tersebut senantiasa memegahkan dirinya terhadap manusia
sesamanya di lingkungan mereka!”. Maka seluruh malaikat mela’nat orang tersebut
hingga petang hari.
Dan naiklah al-Hafadzah dengan
membawa amal seorang hamba yang lain. Amal tersebut demikian memuaskan dan
memancarkan cahaya yang jernih, berupa amal-amal shadaqah, shalat, shaum, dan
berbagai amal bakti (al-birr) yang lainnya. Kecemerlangan amal tersebut telah
membuat al-Hafadzah takjub melihatnya, mereka pun melipat-gandakan amal
tersebut dan mensucikannya, mereka diizinkan untuk membawanya. Hingga sampailah
mereka di pintu Langit Ketiga, maka berkatalah Malaikat penjaga pintu kepada
al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah pemiliknya!
Akulah ‘Shaahibil Kibr’, malaikat pengawas kesombongan, aku telah diperintah
oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini lewat
dihadapanku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya pemilik amal ini telah
berbuat takabbur di hadapan manusia di lingkungan (majelis) mereka!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah yang
lainnya dengan membawa amal seorang hamba yang sedemikian cemerlang dan terang
benderang bagaikan bintang-bintang yang gemerlapan, bagaikan kaukab yang
diterpa cahaya. Kegemerlapan amal tersebut berasal dari tasbih, shalat, shaum,
haji dan umrah. Diangkatlah amalan tersebut hingga ke pintu Langit Keempat, dan
berkatalah Malaikat penjaga pintu langit kepada al-Hafadzah: “Berhentilah
kalian! Pukulkanlah amal ini ke wajah, punggung, dan perut dari si pemiliknya!
Akulah ‘Shaahibul Ujbi’, malaikat pengawas ‘ujub (mentakjubi diri sendiri), aku
telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan amalan seperti ini
melewatiku menuju ke langit berikutnya! Sesungguhnya si pemilik amal ini jika
mengerjakan suatu amal perbuatan maka terdapat ‘ujub (takjub diri) didalamnya!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah dengan
membawa amal seorang hamba hingga mencapai ke Langit Kelima, amalan tersebut
bagaikan pengantin putri yang sedang diiring diboyong menuju ke suaminya.
Begitu sampai ke pintu Langit Kelima, amalan yang demikian baik berupa jihad,
haji dan umrah yang cahayanya menyala-nyala bagaikan sinar matahari. Maka
berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian!
Pukulkanlah amal perbuatan ini ke wajah pemiliknya dan pikulkanlah pada
pundaknya! Akulah ‘Shaahibul Hasad’, malaikat pengawas hasad (dengki),
sesungguhnya pemilik amal ini senantiasa menaruh rasa dengki (hasad) dan iri
hati terhadap sesama yang sedang menuntut ilmu, dan terhadap sesama yang sedang
beramal yang serupa dengan amalannya, dan ia pun juga senantiasa hasad kepada
siapapun yang berhasil meraih fadhilah-fadhilah tertentu dari suatu ibadah
dengan berusaha mencari-cari kesalahannya! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku
untuk tidak membiarkan amalan seperti ini melewatiku untuk menuju ke langit
berikutnya!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah
dengan membawa amal perbuatan seorang hamba yang memancarkan cahaya yang terang
benderang seperti cahaya matahari, yang berasal dari amalan menyempurnakan
wudhu, shalat yang banyak, zakat, haji, umrah, jihad, dan shaum. Amal perbuatan
ini mereka angkat hingga mencapai pintu Langit Keenam. Maka berkatalah malaikat
penjaga pintu ini kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian! Pukulkanlah amal
perbuatan ini ke wajah pemiliknya, sesungguhnya sedikitpun ia tidak berbelas
kasih kepada hamba-hamba Allah yang sedang ditimpa musibah (balaa’) atau
ditimpa sakit, bahkan ia merasa senang dengan hal tersebut! Akulah
‘Shaahibur-Rahmah’, malaikat pengawas sifat rahmah (kasih sayang), aku telah
diperintahkan Rabb-ku untuk tidak membiarkan amal perbuatan seperti ini melewatiku
menuju ke langit berikutnya!”
Dan naiklah al-Hafadzah dengan
membawa amal perbuatan seorang hamba yang lain, amal-amal berupa shaum, shalat,
nafaqah, jihad, dan wara’ (memelihara diri dari perkara-perkara yang haram dan
subhat/meragukan). Amalan tersebut mendengung seperti dengungan suara lebah,
dan bersinar seperti sinar matahari. Dengan diiringi oleh tiga ribu malaikat,
diangkatlah amalan tersebut hingga mencapai pintu Langit Ketujuh. Maka
berkatalah malaikat penjaga pintu kepada al-Hafadzah: “Berhentilah kalian!
Pukulkanlah amalan ini ke wajah pemiliknya, pukullah anggota badannya dan
siksalah hatinya dengan amal perbuatannya ini! Akulah ‘Shaahibudz-Dzikr’,
malaikat pengawas perbuatan mencari nama-diri (ingin disebut-sebut namanya),
yakni sum’ah (ingin termashur). Akulah yang akan menghijab dari Rabb-ku segala
amal perbuatan yang dikerjakan tidak demi mengharap Wajah Rabb-ku! Sesungguhnya
orang itu dengan amal perbuatannya ini lebih mengharapkan yang selain Allah
Ta’ala, ia dengan amalannya ini lebih mengharapkan ketinggian posisi (status)
di kalangan para fuqaha (para ahli), lebih mengharapkan penyebutan-penyebutan
(pujian-pujian) di kalangan para ulama, dan lebih mengharapkan nama baik di
masyarakat umum! Aku telah diperintah oleh Rabb-ku untuk tidak membiarkan
amalan seperti ini lewat dihadapanku! Setiap amal perbuatan yang tidak
dilakukan dengan ikhlash karena Allah Ta’ala adalah suatu perbuatan riya’, dan
Allah tidak akan menerima segala amal perbuatan orang yang riya’!”
Kemudian naiklah al-Hafadzah
dengan membawa amal perbuatan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum, haji,
umrah, berakhlak baik, diam, dan dzikrullah Ta’ala. Seluruh malaikat langit
yang tujuh mengumandang-kumandangkan pujian atas amal perbuatan tersebut, dan
diangkatlah amalan tersebut dengan melampaui seluruh hijab menuju ke hadhirat
Allah Ta’ala. Hingga sampailah dihadhirat-Nya, dan para malaikat memberi
kesaksian kepada-Nya bahwa ini merupakan amal shalih yang dikerjakan secara
ikhlash karena Allah Ta’ala.
Maka berkatalah Allah Ta’ala
kepada al-Hafadzah, “Kalian adalah para penjaga atas segala amal perbuatan
hamba-Ku, sedangkan Aku adalah Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi atas segenap
lapisan hati sanubarinya! Sesungguhnya ia dengan amalannya ini tidaklah
menginginkan Aku dan tidaklah mengikhlashkannya untuk-Ku! Amal perbuatan ini ia
kerjakan semata-mata demi mengharap sesuatu yang selain Aku! Aku yang lebih
mengetahui ihwal apa yang diharapkan dengan amalannya ini! Maka baginya
laknat-Ku, karena ini telah menipu orang lain dan telah menipu kalian, tapi
tidakklah ini dapat menipu Aku! Akulah Yang Maha Mengetahui perkara-perkara
yang ghaib, Maha Melihat segala apa yang ada di dalam hati, tidak akan samar
bagi-Ku setiap apa pun yang tersamar, tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apa
pun yang bersembunyi! Pengetahuan-Ku atas segala apa yang akan terjadi adalah
sama dengan Pengetahuan-Ku atas segala yang baqa (kekal), Pengetahuan-Ku
tentang yang awal adalah sama dengan Pengetahuan-Ku tentang yang akhir! Aku
lebih mengetahui perkara-perkara yang rahasia dan lebih halus, maka bagaimana
Aku dapat tertipu oleh hamba-Ku dengan ilmunya? Bisa saja ia menipu segenap
makhluk-Ku yang tidak mengetahui, tetapi Aku Maha Mengetahui Yang Ghaib, maka
baginya laknat-Ku!”
Maka berkatalah malaikat yang
tujuh dan 3000 malaikat yang mengiringi, “Yaa Rabbana, tetaplah laknat-Mu
baginya dan laknat kami semua atasnya!”, maka langit yang tujuh beserta seluruh
penghuninya menjatuhkan la’nat kepadanya.
Setelah mendengar semua itu dari
lisan Rasulullah saw. maka menagislah Mu’adz dengan terisak-isak, dan berkata,
“Wahai Rasulullah! Engkau adalah utusan Allah sedangkan aku hanyalah seorang
Mu’adz, bagaimana aku dapat selamat dan terhindar dari apa yang telah engkau
sampaikan ini?”
Berkatalah Rasulullah saw.,
“Wahai Mu’adz! Ikutilah Nabi-mu ini dalam soal keyakinan sekalipun dalam amal
perbuatanmu terdapat kekurangan. Wahai Mu’adz! Jagalah lisanmu dari kebinasaan
dengan meng-ghiibah manusia dan meng-ghiibah saudara-saudaramu para pemikul
Al-Qur’aan. Tahanlah dirimu dari keinginan menjatuhkan manusia dengan apa-apa
yang kamu ketahui ihwal aibnya! Janganlah engkau mensucikan dirimu dengan jalan
menjelek-jelekan saudara-saudaramu! Janganlah engkau meninggikan dirimu dengan
cara merendahkan saudara-saudaramu! Pikullah sendiri aib-aibmu dan jangan
engkau bebankan kepada orang lain”
“Wahai Mu’adz! Janganlah engkau
masuk kedalam perkara duniamu dengan mengorbankan urusan akhiratmu! Janganlah
berbuat riya’ dengan amal-amalmu agar diketahui oleh orang lain dan janganlah
engkau bersikap takabbur di majelismu sehingga manusia takut dengan sikap
burukmu!”
“Janganlah engkau berbisik-bisik
dengan seseorang sementara di hadapanmu ada orang lain! Janganlah engkau
mengagung-agungkan dirimu dihadapan manusia, karena akibatnya engkau akan
terputus dari kebaikan dunia dan akhirat! Janganlah engkau berkata kasar di
majelismu dan janganlah engkau merobek-robek manusia dengan lisanmu, sebab
akibatnya di Hari Qiyamah kelak tubuhmu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing
neraka Jahannam!”
“Wahai Mu’adz! Apakah engkau
memahami makna Firman Allah Ta’ala: ‘Wa naasyithaati nasythan!’ (‘Demi yang
mencabut/menguraikan dengan sehalus-halusnya!’, An-Naazi’aat [79]:2)? Aku
berkata, “Demi bapakku, engkau, dan ibuku! Apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw. bersabda,
“Anjing-anjing di dalam Neraka yang mengunyah-ngunyah daging manusia hingga
terlepas dari tulangnya!”
Aku berkata, “Demi bapakku,
engkau, dan ibuku! Ya Rasulullah, siapakah manusia yang bisa memenuhi seruanmu
ini sehingga terhindar dari kebinasaan?”
Rasulullah saw. menjawab, “Wahai
Mu’adz, sesungguhnya hal demikian itu sangat mudah bagi siapa saja yang diberi
kemudahan oleh Allah Ta’ala! Dan untuk memenuhi hal tersebut, maka cukuplah
engkau senantiasa berharap agar orang lain dapat meraih sesuatu yang engkau
sendiri mendambakan untuk dapat meraihnya bagi dirimu, dan membenci orang lain
ditimpa oleh sesuatu sebagaimana engkau benci jika hal itu menimpa dirimu
sendiri! Maka dengan ini wahai Mu’adz engkau akan selamat, dan pasti dirimu
akan terhindar!”
Khalid bin Ma’dan berkata,
“Sayyidina Mu’adz bin Jabal ra. sangat sering membaca hadits ini sebagaimana
seringnya beliau membaca Al-Qur’aan, dan sering mempelajari hadits ini
sebagaimana seringnya beliau mempelajari Al-Qur’aan di dalam majelisnya”.
Sumber Tulisan:
1. Menuju Mukmin Sejati
(terjemahan Minhaj Al-Abidin) karya Imam Al-Ghazali ra.

dimana saya bisa mendapatkan buku tersebut?
BalasHapusApakah masih ada dijual kitab ini ?? Saya berminat
BalasHapusApakah masih ada dijual kitab ini ?? Saya berminat
BalasHapus